Monday, 6 May 2013

askeb neo tentang hipospadia




BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
            Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan spadon yang berarti keratan yang panjang. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir.
            Hipospadia adalah suatu keadaan diman lubang uretra terdapat di penis bagian bawah bukan di ujung penis.Hipospadia merupakan kelainan bawaan  yang terjadi dari 3 dianatara 1000 bayi baru lahir Beratnya hipospadia berpariasi , kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis ,yaitu pada glans penis.
            Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan yang letak meatus uretra eksterna (dibagian permukaan muara atau saluran uretra) terletak lebih keproksimal yaiu lebih dekat dengan pangkal dipermukaan ventral penis. Pada keadaan normal meatus uretra ekstrena ini terletak pada ujung glans penis (bagian paling distal atau lebih jauh dari pangkal). (Hermana, Asep. 2000. Teknik Khitan Panduan Lengkap Sistematis dan Praktis. Jakarta : Widya Media).
Hipospadia adalah kelainan bawahaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis.(Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit : Jakarta : EGC)
Hipospadia adalah muara uretra yang terletak di bawah permukaan buah zakar. (Kamus Kedokteran. 2003. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC).
Sebuah teori mengungkapkan kelainan ini disebabkan oleh penghentian prematur perkembangan sel-sel penghasil androgen di dalam testis, sehingga produksi androgen terhenti dan mengakibatkan maskulinisasi inkomplit dari alat kelamin luar. Proses ini menyebabkan gangguan pembentukan saluran kencing (uretra), sehingga saluran ini dapat berujung di mana saja sepanjang garis tengah penis tergantung saat terjadinya gangguan hormonal. Semakin dini terjadinya gangguan hormonal, maka lubang kencing abnormal akan bermuara semakin mendekat ke pangkal.
            Bentuk hipospadia  yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat ditengah  batang penis atau pangkal penis , dan kadang pada scrotum.Kelaianan ini sering kali berhubungan  dengan kordi yaitu suatu jaringan ,fibrosa yang kencang  yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
Ø  Epidemiologi

Hipospadia terjadi kurang lebih pada 1 dari 250 kelahiran bayi laki-laki di Amerika Serikat. Pada beberapa negara insiden hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir premature, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia.

2.2 Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
a.       Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
b.      Genetika                              
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
c.       Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

2.3 Klasifikasi Hipospadia
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus :
a.       Tipe Sederhana/Tipe Anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus teletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
b.      Tipe penil/Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan scrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.


c.       Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umunya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan scrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
Ø  Komplikasi
a.    komplikasi awal yang terjadi adalah perdarahan, infeksi, jahitan yang terlepas, nekrosis flap, dan edema.
b.   komplikasi lanjut
c.    stenosis sementara karena edema atau hipertropi scar pada tempat anastomosis.
d.   Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama.
e.    Fistula uretrocutaneus
f.    Striktur uretra
g.   Adanya rambut dalam uretra

2 .4 Tanda dan Gejala
a.       Lubang penis tidak terdapat di ujung penis tetapi terdapat di bawah atau di dasar penis
b.      Penis melengkung ke bawah
c.       Tempat penis seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis.
d.      Jika berkemih,anak harus duduk(sudarti,Afroh Fauziah.2012)

Tanda dan gejala
a.       Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
b.       Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
c.       Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
d.       Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
e.       Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
f.       Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
g.      Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
h.      Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
i.        Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal
j.        Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar penis.
k.      Penis melengkung kebawah.
l.        Penis tampak seperti berkerudung, karena adanya kelainan pada kulitdepan penis.
m.    Jika berkemih, anak harus duduk.
n.      Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis.
o.      Pada orang dewasa semprotan air seni yang keluar abnormal

2.5     Diagnosis
Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi. Kadang-kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir. Chordee dapat menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu urethtroscopy dan cystoscopy untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Jika hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya.Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan. Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini, perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan. Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual.
2.6 Penatalaksanaan
            Diagnosa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik jika hipospadia terdapat dipangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk pemeriksaan  kelainan bawaan lainnya. Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat,kulit depan penis di biarkan untuk pembedahan nanti.Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah.
Pada saat ini perbaikan hipospadia dianjurkan sebelum anak berumur18 bulan.Jika tidak di obati,mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan  buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual.(sudarti,Afroh Fauziah.2012).
Untuk saat ini penanganan hipospadia adalah dengan cara operasi. Operasi ini bertujuan untuk merekonstruksi penis agar lurus dengan orifisium uretra pada tempat yang normal atau diusahakan untuk senormal mungkin. Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia anak yaitu enam bulan sampai usia prasekolah. Hal ini dimaksudkan bahwa pada usia ini anak diharapkan belum sadar bahwa ia begitu “spesial”, dan berbeda dengan teman yang lain yaitu anak yang lain biasanya miksi dengan berdiri sedangkan ia sendiri harus melakukannya dengan jongkok aga urin tidak “mbleber” ke mana-mana. Anak yang menderita hipospadia hendaknya jangan dulu dikhitan, hal ini berkaitan dengan tindakan operasi rekonstruksi yang akan mengambil kulit preputium penis untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita hipospadia.

Tahapan operasi rekonstruksi antara lain :
a.       Meluruskan penis yaitu orifisium dan canalis uretra senormal mungkin. Hal ini dikarenakan pada penderita hipospadia biasanya terdapat suatu chorda yang merupakan jaringan fibrosa yang mengakibatkan penis penderita bengkok.Langkah selanjutnya adalah mobilisasi (memotong dan memindahkan) kulit preputium penis untuk menutup sulcus uretra.
b.      Uretroplasty, Tahap kedua ini dilaksanakan apabila tidak terbentuk fossa naficularis pada glans penis. Uretroplasty yaitu membuat fassa naficularis baru pada glans penis yang nantinya akan dihubungkan dengan canalis uretra yang telah terbentuk sebelumnya melalui tahap pertama.

Tidak kalah pentingnya pada penanganan penderita hipospadia adalah penanganan pascabedah dimana canalis uretra belum maksimal dapat digunakan untuk lewat urin karena biasanya dokter akan memasang sonde untuk memfiksasi canalis uretra yang dibentuknya. Urin untuk sementara dikeluaskan melalui sonde yang dimasukkan pada vesica urinaria (kandung kemih) melalui lubang lain yang dibuat olleh dokter bedah sekitar daerah di bawah umbilicus (pusar) untuk mencapai kandung kemih.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
         Hipospadia merupakan kelainan kongenital yang disebabkan oleh faktor lingkungan, genetika dan ketidakseimbangan hormon. Dalam penatalaksanaannya hipospadia perlu dilakukan pembedahandengan tujuan:Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee,membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis (Uretroplasti),untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna(kosmetik).

3.2  Saran
Untuk mencegah terjadinya hipospadia pada neonatus dari segi faktor lingkungan pada saat ibu hamil, sebaiknya ibu menghindari atau meminimalisasi paparan polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.





















DAFTAR PUSTAKA



Habel,A.1990.Ilmu Penyakit Anak.Jakarta:Bina Rupa Aksara.
Ngastiyah.1997.Buku Perawatan Anak Sakit.Jakarta:EGC
Sudarti,Afroh Fauziah.2012.Asuhan Kebidanan Neonatus , Bayi ,dan Anak Balita.Yogyakarta:                 Nuha Medika.
Saifuddin,Abdul Bari.2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan dan Neonatal.Jakarta:                Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


No comments:

Post a Comment